Only $35.99/year

Terms in this set (15)

Legenda Terbentuknya Pulau Bali

1) Menurut legenda cerita rakyat yang beredar, Pulau Bali dan Jawa pada awalnya tergabung. 2) Berawal dari kisah Siddhi Mantra, seorang Brahmana yang memiliki anak bernama Manik Angkera yang suka menghambur-hamburkan harta Ayahnya dengan cara berjudi.

3) Siddhi Mantra adalah orang yang kaya raya, tetap karena kelakuan anaknya yang mempertaruhkan hartanya dalam berjudi sampai habis, lalu berhutang pada orang lain. 4) Melihat kesulitan anaknya, konon atas petunjuk Sanghyang Widhi, Sidhimantra menemui Naga Sakti penjaga harta karun di kawah Gunung Agung.

5) Utang Siddhi Mantra akhirnya terbayar atas bantuannya Naga. 6) Sayangnya, Manik Angkera masih tetap suka berjudi. 7) Demi harta, sang anak menemui sendiri sang Naga dan berhasil menipunya. 8) Karena marah, Naga pun membakar Manik Angkera hingga meninggal.

9) Siddhi Mantra yang merasa kasihan kepada anaknya, memohon dengan penuh belas kasihan kepada Naga untuk menghidupkan kembali anaknya. 10) Naga yang masih memiliki rasa kasihan itu pun mengabulkan permintaannya.

11) Setelah Manik Angkera hidup kembali, Siddhi Mantra mengeluarkan mata air persis tepat di antara mereka berdua berdiri, dengan maksud agar anaknya bisa terpisah dengannya dan bisa mandiri.

12) Lama-kelamaan tanah tempat mereka berdiri dipisahkan oleh air dan membentuk sebuah pulau kecil.

13) Pulau yang terbentuk itu adalah Pulau Bali yang kita kenal sampai sekarang.

Kemustahilan yang terjadi pada teks tersebut terdapat pada kalimat ....
Perhatikan cerita fabel berikut!

Burung Hantu dan Belalang Burung hantu selalu tidur di siang hari. Ia akan bangun setelah matahari terbenam, ketika cahaya merah memudar dari langit. Dia menggeliat dan berkedip dari lubang pohon tua. Sekarang dia berseru, "Hoo hoo hoo" bergema melalui kayu yang rimbun dan ia mulai berburu serangga.

Ia adalah seekor Burung Hantu Tua yang galak, terutama jika ada yang mengganggu saat ia tidur. Suatu sore di musim panas yang hangat, saat ia tertidur jauh di dalam lubang pohon tua. Belalang di dekatnya mulai menyanyikan lagu gembira namun sangat menyesakkan telinga. Burung Hantu Tua itu menengok dari lubang pohon yang digunakan sebagai pintu dan jendela.

"Pergi dari sini, Tuan," katanya kepada Belalang tersebut. "Apakah Anda tidak memiliki sopan santun?" lanjutnya. "Anda setidaknya harus menghormati usia saya dan membiarkan saya tidur dengan tenang!" lanjut Sang Burung Hantu Tua itu.

Akan tetapi, Belalang menjawab dengan kasar bahwa ia juga berhak berada di tempat ini. Lalu ia meneriakkan suara lebih keras dan lagu yang lebih berisik. Burung Hantu yang bijak tahu benar bahwa tak ada gunanya berdebat dengan Belalang keras kepala ini. Selain itu, matanya semakin rabun untuk memungkinkan dirinya menghukum Belalang. Akhirnya, dia melupakan semua kata keras dan kembali berbicara dengan sangat ramah kepada Belalang.

"Tuang Belalang yang baik hati, jika saya harus tetap terjaga, saya akan datang untuk menikmati nyanyian Anda. Namun, saat ini saya memiliki anggur lezat disini, kiriman dari Olympus. Silakan datang dan rasakan minuman lezat ini bersama saya." sanjung Burung Hantu Tua. Belalang terhanyut oleh kata-kata sanjungan Burung Hantu Tua.

Akhirnya, dia melompat ke sarang Burung Hantu Tua. Ketika Belalang cukup dekat dalam jangkauan penglihatan, Burung Hantu Tua itu menerkam dan memakannya.

Bukti watak tokoh Belalang terdapat pada kalimat ...
Perhatikan cerita fabel berikut!

Burung Hantu dan Belalang Burung hantu selalu tidur di siang hari. Ia akan bangun setelah matahari terbenam, ketika cahaya merah memudar dari langit. Dia menggeliat dan berkedip dari lubang pohon tua. Sekarang dia berseru, "Hoo hoo hoo" bergema melalui kayu yang rimbun dan ia mulai berburu serangga.

Ia adalah seekor Burung Hantu Tua yang galak, terutama jika ada yang mengganggu saat ia tidur. Suatu sore di musim panas yang hangat, saat ia tertidur jauh di dalam lubang pohon tua. Belalang di dekatnya mulai menyanyikan lagu gembira namun sangat menyesakkan telinga. Burung Hantu Tua itu menengok dari lubang pohon yang digunakan sebagai pintu dan jendela.

"Pergi dari sini, Tuan," katanya kepada Belalang tersebut. "Apakah Anda tidak memiliki sopan santun?" lanjutnya. "Anda setidaknya harus menghormati usia saya dan membiarkan saya tidur dengan tenang!" lanjut Sang Burung Hantu Tua itu.

Akan tetapi, Belalang menjawab dengan kasar bahwa ia juga berhak berada di tempat ini. Lalu ia meneriakkan suara lebih keras dan lagu yang lebih berisik. Burung Hantu yang bijak tahu benar bahwa tak ada gunanya berdebat dengan Belalang keras kepala ini. Selain itu, matanya semakin rabun untuk memungkinkan dirinya menghukum Belalang. Akhirnya, dia melupakan semua kata keras dan kembali berbicara dengan sangat ramah kepada Belalang.

"Tuang Belalang yang baik hati, jika saya harus tetap terjaga, saya akan datang untuk menikmati nyanyian Anda. Namun, saat ini saya memiliki anggur lezat disini, kiriman dari Olympus. Silakan datang dan rasakan minuman lezat ini bersama saya." sanjung Burung Hantu Tua. Belalang terhanyut oleh kata-kata sanjungan Burung Hantu Tua.

Akhirnya, dia melompat ke sarang Burung Hantu Tua. Ketika Belalang cukup dekat dalam jangkauan penglihatan, Burung Hantu Tua itu menerkam dan memakannya.

Nilai moral yang terdapat pada teks tersebut adalah ...
Perhatikan cerita fabel berikut!

Burung Hantu dan Belalang Burung hantu selalu tidur di siang hari. Ia akan bangun setelah matahari terbenam, ketika cahaya merah memudar dari langit. Dia menggeliat dan berkedip dari lubang pohon tua. Sekarang dia berseru, "Hoo hoo hoo" bergema melalui kayu yang rimbun dan ia mulai berburu serangga.

Ia adalah seekor Burung Hantu Tua yang galak, terutama jika ada yang mengganggu saat ia tidur. Suatu sore di musim panas yang hangat, saat ia tertidur jauh di dalam lubang pohon tua. Belalang di dekatnya mulai menyanyikan lagu gembira namun sangat menyesakkan telinga. Burung Hantu Tua itu menengok dari lubang pohon yang digunakan sebagai pintu dan jendela.

"Pergi dari sini, Tuan," katanya kepada Belalang tersebut. "Apakah Anda tidak memiliki sopan santun?" lanjutnya. "Anda setidaknya harus menghormati usia saya dan membiarkan saya tidur dengan tenang!" lanjut Sang Burung Hantu Tua itu.

Akan tetapi, Belalang menjawab dengan kasar bahwa ia juga berhak berada di tempat ini. Lalu ia meneriakkan suara lebih keras dan lagu yang lebih berisik. Burung Hantu yang bijak tahu benar bahwa tak ada gunanya berdebat dengan Belalang keras kepala ini. Selain itu, matanya semakin rabun untuk memungkinkan dirinya menghukum Belalang. Akhirnya, dia melupakan semua kata keras dan kembali berbicara dengan sangat ramah kepada Belalang.

"Tuang Belalang yang baik hati, jika saya harus tetap terjaga, saya akan datang untuk menikmati nyanyian Anda. Namun, saat ini saya memiliki anggur lezat disini, kiriman dari Olympus. Silakan datang dan rasakan minuman lezat ini bersama saya." sanjung Burung Hantu Tua. Belalang terhanyut oleh kata-kata sanjungan Burung Hantu Tua.

Akhirnya, dia melompat ke sarang Burung Hantu Tua. Ketika Belalang cukup dekat dalam jangkauan penglihatan, Burung Hantu Tua itu menerkam dan memakannya.

Kalimat bercetak tebal dapat menjadi kalimat yang baku apabila diperbaiki dengan cara ....